KEHADIRAN NEGARA ATAS PENANGANAN BENCANA DI SUMATERA DAN ACEH
Dalam beberapa pekan terakhir, rangkaian bencana alam kembali menghantam sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh. Banjir bandang menerjang pemukiman, tanah longsor menutup akses jalan utama, dan gempa bumi mengguncang kawasan pesisir. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal, sekolah rusak, dan sentra ekonomi lumpuh seketika.
Bencana alam yang melanda wilayah Sumatera dan Aceh dalam beberapa minggu terakhir kembali membuka luka lama sekaligus memunculkan pertanyaan mendasar: Apakah negara sudah benar-benar hadir untuk melindungi warganya? Gempa, banjir, hingga tanah longsor yang terjadi bukan sekadar urusan alam, tetapi juga ujian bagi kemampuan negara dalam memastikan keselamatan masyarakat. Di tengah tingginya korban dan kerusakan, publik mempertanyakan seberapa cepat dan seberapa efektif pemerintah merespons situasi darurat ini. Pertanyaan tersebut tidak hanya relevan secara moral, tetapi juga memiliki dasar hukum yang kuat, mengingat konstitusi dan undang-undang secara jelas menegaskan bahwa negara wajib melindungi setiap warga dari ancaman bencana.
Secara hukum, negara memiliki mandat kuat untuk melindungi warga dari ancaman bencana hal ini terakomodir dalam Pasal 28G ayat (1) UUD 1945 menegaskan hak masyarakat atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman. Kewajiban tersebut dipertegas dalam UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang mengatur peran negara dalam:
- mitigasi dan pencegahan,
- penyelamatan dan evakuasi,
- penyediaan bantuan darurat
- pemulihan pasca bencana.
Meski kerangka hukumnya cukup jelas, implementasi di lapangan kerap menghadapi berbagai hambatan. Meski upaya evakuasi dan distribusi bantuan terus berlangsung, pertanyaan publik tak bisa diabaikan. Apakah kehadiran negara hanya diukur dari datangnya bantuan darurat? Ataukah harus mencakup upaya jangka panjang seperti mitigasi, peningkatan kapasitas daerah, dan edukasi warga? Pemerintah pusat menyatakan akan memperkuat koordinasi dan mempercepat penyaluran logistik ke wilayah terdampak. Namun publik menunggu langkah konkret yang bisa memastikan bencana tidak terus memakan korban dalam jumlah besar.
Bencana di Sumatera dan Aceh menjadi pengingat keras bahwa kehadiran negara bukanlah bonus atau kemurahan hati justru Itu adalah mandat konstitusi dan hak tiap warga negara. Negara tidak boleh hanya hadir ketika sirine berbunyi. Ia harus hadir jauh sebelum itu: dalam perencanaan, pencegahan, dan pengelolaan risiko.
Selama itu belum terwujud, pertanyaan masyarakat akan terus menggema:
“Apakah negara sudah hadir?”
Sebuah pertanyaan sederhana—tetapi jawabannya menentukan hidup ratusan ribu orang.
Oleh :
Hilwah Mabdiyyatul Izzah, S.H.,
Legal & Corporate Secretary


